Tolong Kopi Hitam Saja….


Sampah Otak 3
5 February 2010, 11:42
Filed under: Kepala

“menghentak seketika, hingga terhenti sesaat setiap bagian sel di tubuh ini…”

Entah ledakan apa lagi yang diberikan olehNya, tidak karena alasan tak mencintaiku, tidak juga karna membenciku, sungguhpun sejatinya karna begitu mencintai dengan menjawab segala doa dan kehendak terdalamku, jawaban dengan caraNya yang selalu penuh misteri.

Ketika langkah terasa tak berarah dan lelah, maka dgn kuasaNya membelokkan relung, logika - kenyataan - kesempatan - energi seakan terhenti sekelebatan, sekelebat saja. Yang terasa adalah setiap sel seakan terhenti disatu titik, karna energiNya yang maha dahsyat telah merubah arah perahu ini, energiNya yang maha perkasa telah menghentikan tuk merubah arah perahu ini. Hanya bisa terkesiap seakan tak ada daya upaya untuk mengingkari kehadiranNya.

Oh sungguh pun begitu terberkatinya makhluk-makhluk yang terhenti sesaat karna ledakan akan sesuatu yang baru, oh betapa beruntungnya makhluk-makhluk yang bisa menikmati sesuatu yang baru setiap saatnya, betapa dicintaiNya insan yang senantiasa dihentikan tuk diarahkan oleh energinya yang maha dahsyat.

Kala pertimbangan hanya sebatas pertimbangan, karna apapun hasilnya hanya akan membawa pada satu petualangan tak berujung, petualangan baru dimana sang maha skenario tak akan membiarkan insan yang dicintainya terjerembab terlalu dalam dan terjatuh lumpuh. Hanya akan senantiasa meledakkannya, meledakkan untaian-untaian alur yang telah dibuat dengan perencanaan yang matang, pertimbangan yang seimbang antara logika, rasa dan kemampuan. Tapi dengan satu syarat, yaitu memberikan satu ruang khusus, satu sisi yang spesial, senantiasa membawanya dimanapun dan kapanpun eksistensi-Nya.

Maka nantikan satu petualangan yang indah, petualangan yang menorehkan berbagai macam goresan, satu misteri dalam misteri, satu misteri yang terpetakan namun tak terpecahkan. Satu proses hidup yang akan menuliskan berlembar-lembar kisah penuh warna, sebagai teman secangkir kopi hangat kala berbagi dengan orang terdekat.



Sampah Otak 2
29 December 2009, 00:05
Filed under: Kepala

Kala dengan mudah mereka mencipta utopi mimpi, mencipta ruang khayal didasar otak tentang mimpi, kala berkreasi secantik mungkin tuk mereka-reka kehadiran mimpi, mencipta ruang-ruang tuk menghadirkan mimpi. Menjadi topik yang tak henti-hentinya dipergunjingkan di kedai-kedai kopi, diruang publik (halte, terminal, stasiun dan lainnya). hingga mimpi merayap masuk dan menjelma kesalah satu ruang kosong dalam otak yang tersisa.

Maka hidup pun berubah menjadi mimpi, mimpi seperti penyakit kangker yang hidup dalam jaringan hidup, yang tumbuh sebagaimana tubuh tumbuh. Menjadi bagian yang pelan tapi pasti memberikan sedikit rasa pada sang tubuh, sebagian kecil, sebagian besar hingga seluruhnya telah didominasi oleh kuasanya. mimpi berkuasa dalam setiap bagian sel tubuh yang tak berdaya akan dirinya sendiri, tubuh yang telah ternoda oleh mimpi, tubuh yang telah menerima sesuatu yang akan memberikannya rasa sakit dan menguasainya perlahan.

satu candu yang dengan mudah bisa meracuni relung-relung…hanya cukup dengan membiarkannya hadir, mimpi yang tercipta kala tubuh dalam sadar, mimpi yang ada kala kesadaran berkuasa akan tubuh,  dan buai dibuai lah dengan segala kenikmatannya.

perlahan tapi pasti, tubuh akan terjebak didalamnya, dan dikuasai olehnya, setiap jengkal menguasai bagian-bagian dari tubuh, hingga akhirnya dia menguasai segalanya, kala kesadaran bersandar pada satu sel candu, maka kesadaran perlahan melebur menjadi satu dengan zat asing diluar tubuh. bias tercipta kemudian, hingga batasannya menjadi tak ada (batasan antara kesadaran tubuh dan kesadaran zat asing yang bernama mimpi).

bermainlah diombak…bercengkrama lah dengan rasa sakit petualangan…hingga torehan yang ada pada tubuh menjadi satu simbol yang menjadikan tubuh berharga lebih.

ombak yang akan hadir ketika tubuh mencoba selalu dan akan selalu menyeimbangkan atara kesadaran tubuh dan kesadaran zat asing yang ada dalam tubuh, mencoba tetap menjaganya dalam proporsi yang seimbang dan harmonis.

petualangan yang akan hadir tanpa terduga kala mencoba memetakan kesadaran tubuh dan kesadaran zat asing dalam tubuh hingga torehan luka menjadi bagian yang berharga lebih.

maka senja kan kembali hadir senyap ditapal batas hari…dan kembali menenggelamkan raga dalam kehangatannya

Bias semu mimpi…



Butiran Lepas Kendali…
28 December 2009, 23:43
Filed under: Hati

Maka butiran kembali menjejali ruang-ruang kepalaku…

kupeluk…kurasa…kubelai…kucium…maka kehangatan menjadi bulir-bulir penggalan yang senantiasa kunanti setiap saat, hingga waktupun mencair, menjadi bulir-bulir yang berserakan disisi kanan dan kiriku.

bergemeretak luluh lantah segala pertahanan akan satu utopi akan satu nilai dogmatic yang memang sejatinya semu, batas-batasnya hampir tak ada, senyap dan hanya seyap hingga tak mampuh membendung segala energi yang begitu telah terpusat disatu titik, satu bentuk energi yang membius sekaligus menjebak dan menghanyutkan dalam dan semakin dalam, energi yang begitu memuncak dengan trend yang terus menanjak hingga tiba disatu titik.

pusaran demi pusaran energi kembali hadir, kala puncak belum tergapai karna keadaan, kondisi, suasana. saat segalanya begitu tenang dan menghanyutkan kembali energi yang berlipat-lipat beriringan silih berganti hadir menjadi untaian-untaian mata rantai yang tak terputus tak tergoyahkan oleh logika hati dialektika dogma.

energi yang tak akan terbendung dan seakan semakin tak terbendung..hingga satu titik…satu titik dan hanya sebentuk titik, titik yang tak akan berubah menjadi garis, bidang atau ruang, titik yang hanya akan menjadi titik saja, satu titik dimana segala energi yang terbendung mencapai puncaknya, mencipta satu momentum dengan kekuatan yang luar biasa.

lepas kendali…lepas kendali…lepas kendali….lepasssssssssssss….



EMOSi senyap yg merayap…
1 December 2009, 00:27
Filed under: Hati

episode : aku berkata cinta…

menggelitikku dalam kegelisahan yang berkepanjangan, kala dihadapkan oleh MASA LALU yang tak bisa hilang nampaknya saat ini, hingga tuk berkompromi didalamnya butuh energi  yang terus menerus harus kucurahkan.

Jangan kau tanyakan mengapa mentari kadang abu-abu, karna sinar-mu redup redam terasa untukku. Jangan tanya mengapa ku merasakan takdirku akan serpihan, karna terasa hanya serpihan kau berikan padaku. Jangan tanya ini dan itu akan masa depan ku, karna kau masih terjebak dalam MASA LALU mu. Ku ijinkan kau bertanya jika :

Kau tunjukan satu hati yang utuh untukku. Kau berenang dengan KERAS tuk menyebrang dari masa lalu mu ke masa depan mu.Kau tak ciptakan dalam relungmu kembali masa lalu yang sudah berlalu. Kau beri aku arti ketulusan bukan SATU PERMAINAN TUTUP MENUTUPI. Kau tak menjadikan aku objek pembanding. Kau berjiwa besar tuk tak menjadikanku barang antik yang tak cantik hingga pantas tuk diTutupi bak sebuah aib yang mencoreng muka mu. Kau tak menjadikanku “generator kala listrik padam”.

Satu permintaan yang tak mungkin, hingga malam pun begitu enggan memberikan kehangatannya ketika dia menemaniku berkata ini. Tak Pantas…Tak Layak…

satu epilog emosi pungguk berparas buruk…



Sampah Otak…
1 December 2009, 00:10
Filed under: Kepala

Ambigu…maka kusongsong mentari abu-abu…

sepenggalan yang tak pernah berakhir, hingga masih terasa yang kudapatkan hanya serpihan. Serpihan demi serpihan telah menjelma tapak jalanku, jalan yang telah sang Penguasa beri untukku, hingga kupaham akan pencarianku, kupaham akan kehendakNya, kupaham akan kebesaranNya, hingga aku bisa senantiasa bersandar saat mentari menjadi abu-abu.

Tak ada yang utuh, hanya serpihan, yang kudapatkan akan senantiasa seperti itu nampaknya, apakah aku terlalu cepat menilai segalanya ?, apakah memang tanda pertanda yang harus ku-amin-i, dari saat ku mulai merenungi apa yang terjadi padaku, hal yang terjadi bukan karena apa yang telah kurencanakan, tapi hal yang terjadi diluar kuasaku, hal yang menerjemahkan arti dari keberuntungan. kutapaki dan kutemukan bahwa apa yang kudapatkan tak lebih dari esensi tak sempurna itu sendiri, karna seakan hanya penggalan saja yang kudapatkan…bukan satu kesatuan yang utuh.

Akan selalu ada kompromi, akan selalu ada pembenaran tuk menikmatinya, akan selalu parsial sifatnya, akan tak sempurna dan tak utuh, tentu saja jika dibandingkan dengan apa yang mereka dapatkan, tapi apa mereka untukku dan apa aku untuk mereka ?, satu wacana yang tak perlu diperdebatkan, hanya saja sebagai satu makhluk yang mencoba untuk menelaah dan bersyukur senantiasa apa yang didapatkannya saat ini dan kemudian mengurainya menjadi satu wacana untuk satu torehan warna lain di kanvas kehidupan ini.

Kadang utopi mendapatkan satu hal yang utuh…yang mungkin pada umumnya…sekali lagi pada umumnya orang lain dapatkan dalam bentuk utuh, akan menjadi satu bahasa asing yang tak kumengerti. Bahasa asing yang mungkin hanya aku yang menjadi orang terluar yang mencoba membandingkan dengan segala hal yang terjadi padaku.

Tidak semata materi, namun dalam hal cinta, kepercayaan, hati dan keinginan, hanya serpihan yang kudapat, bahkan sisi kiri ku berkata hanya “SISA” yang kudapatkan, utuh dan bersyukur atas apa yang kudapatkan hanya buah dari pertimbangan ku yang kadang terasa hanya satu bentuk “pembenaran” semata.

Apakah ini terjadi pada orang kebanyakan, atau mereka terlalu sibuk, terlalu malas, terlalu enggan tuk menjadikannya utopi dalam kepala. ?

Memohon tuk cinta yang utuh apakah satu mukjizat sekelas nabi, hingga hamba sahaya ini tak mungkin mendapatkannya ?

Memohon tuk ketulusan hati yang utuh apakah hanya untuk umatMu yang begitu tunduk akan segala perintahMu ya Tuhan ?

tuk makhluk yang mencintaiMu dengan cara yang parsial, walau hati utuh meyakiniMu hanya akan mendapatkan SERPIHAN saja, SISA saja dan TAK UTUH… ?! apakah itu yang ingin Engkau sampaikan…



kontradiksi pilihan dan hati kah?
23 November 2009, 19:28
Filed under: Hati, Kepala

“lalu diapun bersiul dengan posisi berjongkok di pinggir hamparan padang ilalang tak berbatas pandangan mata…”

Jangan pisahkan aku dengan “pilihan” ya Tuhan, karna aku akan kehilangan cintaMu, kehilangan mukjijat yang Engkau berikan pada makhlukMu yang ber-label manusia ini.

Hingga tak hilang arahku,

Hingga tak terlena hidupku,

Hingga aku menjadi lemah karnanya,

Hingga aku bisa menikmati kebebasanku,

Hingga aku bisa merasakan bahwa tak ada jalan yang berujung,

Hingga aku bisa senatiasa mnikmati karuniaMu yang lain yaitu berpikir (sejati sbagai makhluk yg sempurna)

Hingga aku bisa berdiri dikakiku sendiri, dan menatap kehari esok yang penuh pilihan kembali.

Maka…

Berbahagialah makhlukNya yang sudah menemukan pilihannya, bersyukurlah makhlukNya yang telah berjalan dipilihanNya, tersenyumlah makhlukNya yang enggan memilih.

Tidak untuk…

Memilih untuk tak membuka mata untuk suatu pilihan, memilih untuk menjalani hidup tanpa banyak pilihan, memilih untuk senantiasa berada dalam jalur tanpa banyak pilihan, itupun suatu pilihan…hanya akan terhenti ketika berikutnya adalah keengganan untuk memilih, menerima pilihan dari suatu sistem sosial disekitar. Menunggu pilihan dari orang lain dan dariMu…menghindar dari pilihan yang beriak dan berbahaya…menjauhi pilihan-pilihan yang ber-resiko…memberikan pilihan kepada orang lain…

Tanpa sadar…ketika begitu sulit tuk mencari pilihan dari satu permasalahan, aku menemukan ya Tuhan, aku menemukan bahwa dengan membuka hati, maka pilihan demi pilihan menjadi begitu ada, hingga hati tak menggumpal menjadi bentuk mutlak dan absolut. Kala hati menjadi bagian dari raga dan olah laku ku, pilihan demi pilihan menjadi lebih banyak dan lebih beriak, tak ada yang monoton, karna aku telah menemukan ya Tuhan bahwa hati itu tak absolut dan mutlak, sejatinya hati akan memberikan ku banyak pilihan, hingga berwarna hidupku…

Demi keselarasan segala energi Alam - Tuhan - Manusia dibutiran embun ku berdoa pada senja yang hangat



Sampah Otak
27 October 2009, 21:56
Filed under: Hati

mengurai ketulusan dan keikhlasan yang tak terselesaikan…

mencari sebersit cahaya dialam bencana gelap gulita…

hidup dari secuil senja jingga polusi & kontaminasi…

letih akan elegi pencapaian mimpi…

meradang jiwa pengembara dalam sangkar tak berkunci…

melebur asa jadi kepulan-kepulan asap putih tembakau ini…

berontak angkuh dgn dada membusung hantam realita…

secuil nyali hadapi api…kehendak…ambisi dan birahi…

penggalan kisah yang saling memenggal tak bertepi…

ketenangan hangat akan pesona jingga yang tak sempurna…

langkah terhenti oleh sumbatan-sumbatan energi…

sepi menyeruak bak pertunjukan komedi…

kepastian dan ketidakpastian campur aduk bak gula dan kopi saling melengkapi…

Ohhh Sang Mahadaya….

kupanjatkan doa beribu doa…

kurapalkan matra beribu mantra…

‘tuk sekuncup bunga ilalang pagi esok hari…



realita tak terbantahkan
27 October 2009, 01:24
Filed under: Hati

mengalir saja…seperti aliran air…tak bergemericik, tak ada kisah yang saling memenggal

biasa saja…hanya seperti biasa, seperti bumi yang berputar pada porosnya…seperti mentari timbul dan tenggelam begitu saja, tak ada yang terlalu karna memang tak ada yang terlalu.

cakrawala hanya semburat biru dan hitam pekat seperti biasa…bak roda mobil yang kulihat setiap hari, berputar seperti biasa…apakah itu terlalu…terlalu b i a s a….

bahkan terlalu lama menjadi biasa…akan kah menjadi terlalu biasa?…jika biasa menjadi terlalu…bukankah sesuatu yang terlalu itu tidak biasa…t e r l a l u biasa.

berada dibatas netral…mencoba menyeimbangkan segalanya, agar tak terlalu…tapi ketika lama dan terlalu lama menjadi netral dan terlalu lama mencoba menyeimbangkan segalanya…bukankah itu juga sesuatu yang terlalu…terlalu n e t r a l.

jika dan hanya jika kugunakan parameter waktu…mungkin ya…karna tak ada terlalu w a k t u…mungkin ada waktu yang terlalu….waktu yg terlalu l a m a….waktu yang terlalu s i n g k a t…

membiarkan gejolak agar tak terlalu…menurunkan tingkat atau taraf t e r l a l u dalam segala hal mungkin hidup akan menjadi tak terlalu…tapi semua itu hanya penggalan saja, ketika membiarkannya mengalir seperti air…berhembus seperti angin pagi hari…berkelabat sesaat saja seperti senja yang jingga…maka t e r a s a semuanya menjadi tak TERLALU.



Ku Butuh Ruh Puragabaya…
10 September 2009, 19:10
Filed under: Kepala

Ruh yang menghyang…lanange jagad…

Jiwa raga yang paripurna dalam balutan nilai luhur tradisi dan budaya

Kesetian akan satu nilai yang benar…sejati dalam hal laku lampah

Hidup, dihidupkan dan menghidupkan kesederhanaan

Pencapain tertinggi untuk slalu dekat pada dzat-Nya…

Balutan putih dalam harum padma suci menjadi busana sehari-hari

“Maka datanglah…rasuki jiwa-jiwa yang tersesat dalam pencarian…datanglah”



mu rindu pada ilalang…
21 July 2009, 16:01
Filed under: Hati

Sekuntum telah tumbuh…

…kala gersang padang ilalang

Entah tumbuh karna saatnya atau tumbuh karna tahu…

…yang jelas karna pelangi tak sampai kebumi