#Rintik 3
Aku tak meminta cinta mu yang besar untuk ku,
Pertama, cintailah kedua orang tua mu
Kedua, cintailah pekerjaan mu, kegiatan mu, apapun yg membuat mu senang
Ketiga, cintailah mereka yang mencintai mu (saudara mu…sahabat mu…)
Keempat, cintailah dirimu sendiri, agar kau bisa berdiri menjadi dirimu sendiri
Kelima, sisakan cinta untukku sedikit sahaja
Karna cinta tidak bertahan lama…cinta datang dan pergi…pasang surut…timbul tenggelam…
Seperti senja…seperti fajar…
Hanya sekejap tapi memang layak tuk dinantikan sepanjang hari dan sepanjang malam…
Yang bertahan dan membuat kita akan terus bertahan adalah harapan
Harapan untuk kehidupan yang lebih baik
Harapan untuk cinta yang lebih indah
Harapan untuk kebahagiaan didunia
Harapan akan masa depan yang cerah
Maka yang kuminta adalah harapan yang besar untuk kita…bukan cinta yang besar…
Jangan berhenti berharap untuk kita…itu yang kuminta…
Karna tanpa harapan semuanya tak akan bertahan…
Andai kau tahu #Rintik…andai kau tahu…
Yg kupupuk untukmu lebih besar dari cinta,
Yg kupupuk dalam diriku untukmu adalah harapan
Imaji…bermetamorfosislah kau menjadi sayekti…
Petualangan ku tdk berakhir disini, sayang
Langkah tertatih ku tdk berakhir disini, sayang
Rupa warna tubuh ta’ indah ku tdk berakhir disini, sayang
Pikir & hati ku tdk berakhir disini, sayang
Membentang sejauh mata memandang
Hening cecuit suara burung
Gesekan biola pinus diterpa angin
Semilir dingin pada hangat tubuh dibalut kabut
Imaji ku akan sosok nya adalah…
Selimut hangat yg membalut kegelisahan
Sepenggal senyum di ujung senja dibibir gelas teh hangat nya
Untaian kata-kata manja dari suara syahdu kisah nya
Sentuhan hangat tubuh nya yg bersandar di sisi ku
Maka akan ku minta waktu terhenti
Maka hanya akan ada aku dan dirimu
Oh imaji…imaji…imaji…
Ingin kau tiada lagi wahai imaji…
Bermetamorfosislah kau menjadi sayekti…
Dimana…dimana…dimana…
Atas nama semua yg membosankan
Atas nama sebatang pohon yg kering
Atas nama gersang tak kunjung hilang
Atas nama sgala kgelisahan
Kutasbihkan rindu menggunung pd tiada
Kurapalkan mantra syiar pujangga pd malam
Kucecap berkali-kali untaian doa pd tiada
Kuteriakan kata cinta pd temaram
Lalu dimana kuharus berlabuh ?
Lau dimana ku harus bersandar ?
Ditapal batas segala daya upaya
Atau pada rintik hujan ada & tiada
Pada mereka yg duduk berdua dipinggir danau
Syahdu memadu kasih dan nuansa romansa
Dimana…dimana…dimana…
Prettt lahhhh backpacker …
knapa smua org skrg berlomba2 & brencana pergi ktmpt yg br?
apakah mrka br mbuka matanya skrg?,
ato ini hnya satu bagian dr euforia gaya hidup yg akan blalu bgitu saja bganti dgn euforia baru?.
stigma BACKPACKER…seakan mjadi slah satu identitas distatus sosial kekinian,mreka jual tas kopernya diganti dgn tas punggung,mreka bagi rutinitas & kteraturan dgn rencana akhir pekan yg spektakuler,mulai bhitung jumlah cuti, mngatur ritme kerja biar ta monoton, bkumpul & bgumul dgn ssma “traveller”, muncul komunitas2 kecil para traveller….maka obrolan warung kopi brubah mjadi pantai yg baru yg ta’ terjamah,acara tradisi pkampungan yg terisolasi, objek wisata yg sulit diakses, kgiatan outdoor yg memompa adrenalin, smpe jnis kmera canggih nan praktis tahan banting sbg media prekam tuk ajang narsis di jejaring sosial
hingga muncul tokoh baru si cupu dan si “ngga gaul” ; org yg ta’ memompa adrenalinnya, ta’ memiliki tas punggung, ta’ pernah pergi ktmpt baru, ta’ tau pantai yg indah, ta’ pnah bpergian kluar kota, ta’ mnenteng kamera foto, ta’ pnya kamera.
prettt lahhh…
jika tnyta hanya manut tur ikut2an sahaja…
jika tnyta hanya bkontribusi pada pnyebaran “sampah”…
jika tnyta cman jd ajang gengsi dan eksistensi sahaja…
jika tnyta cman brakhir di profil pic jejaring sosial
jika tnyta hanya pengakuan belaka sahaja
hanya tuk mbuang energi negatif ketmpt baru,mengemis mdptkan energi baru dr tmpt baru,mencuri alias nyolong lebih tpatnya…tnpa kontribusi apapun…cih
apalagi smpe mnularkan virus negatif (individualis, pola kunsumtif, arogansi, gaya hidup modern industrialis, teknologi adiksi, dll) ke lingkungan yg awalnya sangat tenang, dinamis dan harmonis…cih
hidup anda memang pilihan anda tapi….pretttt lah….
Rajah Siliwangi
amit ampun nun paralun
ka Gusti nu Maha Suci
neda pangjiad pangraksa
para abdi-abdi seni
seja ngaguar laratan
titis waris nini aki
ngembatkeun jalan laratan
katampian geusan mandi
ka leuwi sipatahunan leuwi anu ngaruncang
diri-dirina nu sakiwari
rek muru lurung tujuh ngaliwat ka pajajaran
bongan hayang pulang anting
padungdengan padungdengan
jeung usikna pangancikan
puuuunnn…sapuuuunnnn….
sampurasun karumuhun
kaHyang Prabu Siliwangi
numurba di Pajajaran
pangauban seuweu-siwi
nu gelar di tatar SUNDA
muga nyebarkeun kawangi
#Rintik
Kau pecut kejut berpendar
Melecutkanku ke dimensi mayapada
Membiarkan insan memuja pada kabut memutar
Membias mengekang di dada
Batara kau tampar dgn semburat
Kejantanan kau luluhkan dgn geliat
Pesona kau tepis dgn senyuman
Maka buta lelaki padamu
Maka lelena mereka diam untukmu
Imajimu menyeret lelaki ke tepi ujung nirwana
Bak dicucuk hidung pada budak berkacamata kuda
Kamaratih adalah kau
Bulir embun di ujung kelopak bunga adalah kau
Sepenggal pesona senja adalah kau
Yah itu kau…sosok indah pemberi makna
Sederhana-ku-kini
Mencipta bulir demi bulir…
Saat ini semuanya menjadi sangat sederhana;
Senja yg te-rasa sangat sederhana
Fajar yg te-rasa sangat sederhana
Kasih sayang yg sederhana
Ritme nafas yg sederhana
Detak jantung yg sederhana
Irama lagu yg sederhana
Langkah kaki yg sederhana
Senyum manis yg sederhana
Raut tenang yg sederhana
Wajah polos yg sederhana
Cara berjalan yg sederhana
Kerling mata yg sederhana
Pada malam yang terlalu setelah tamparan demi tamparan semesta membawa relung tersesat dalam labirin hitam menghisap jiwa kedalam nuansa keterpurukan hingga enggan tuk mencecap keindahan, ketenangan, kedamaian, hanya berdiri ditapal batas \”antara\”, antara ada dan tiada, antara hitam dan putih, antara tenang dan gelisah, antara bahagia dan carut marut, antara berdiri dan terjatuh, antara senyum dan tangis, antara pahit dan manis, antara kebesaran hati menerima pesona tersaji dihadapan waktu.
Anak kecil bertelanjang dada berlarian di padang savana menerima dan memberi energi dengan semesta….rintik hujan datang dan dia berteduh dibawah pohon rindang tua bijaksana…gemuruh badai membuat tangan kecil sang kecil memeluk erat batang kokoh mencoba bertahan…petir menyambar memekakkan telinga….memaksa sang kecil menutup mata….perlahan sang kokoh tergoyahkan dihempas angin dilumuri air….tangan kecil tak daya mencengkram erat tangan mungilnya pada batang sang kokoh…tubuhnya terbawa…
Hening jagad sesaat….menanti sang Penguasa mengetuk palu takdir…
Senyap semesta sesaat…menanti sang Raja-di-Raja menentukan nasib untuknya…
Pada malam itu….pada malam purnama kashada…saat para gadis menarikan puja puji pusparesti…kala pandita membakar dupa dan membaca mantra…saat kamajaya dan kamaratih duduk bersandar saling bercumbu di Mayapada…kala gadis dan jejaka menatap kosong ke le-langit mencecap pesona temaram…
Percik embun menetes di de-daun,
Semburat jingga disudut cakrawala,
Cecuit burung lirih dikejauhan.
Sang kecil terbangun
Sorot mata sayu, senyum simpul dan geliat s e d e r h a n a…
petaka sesak…
sketika saja sesak menjadi penyakitku
bukan karna berpuluh batang rokok
bukan karna berkaleng-kaleng minuman
bukan karna penyakit turunan
bukan pula karna ku tak makan…
penyakit baruku da-tang dan per-gi sesukanya…
hadir kala tenang, sedih, bahagia, bahkan kala cakrawala begitu cerah dan semilir angin bersahabat
terlalu kecil lingkaran ini…terlalu kecil dunia ini…
tiap sisi dan sudut snantiasa memicu penyakit baruku…
lari dan mecoba hilang ingatan agar lupa sesakku
haruskah?…haruskah?…tp aku terlalu takut pada candu didalamnya…
smakin tak kumengerti….ketika sesak ini smakin menjadi justru ketika aku bahagia
